Bagaimana jika manusia diciptakan abadi? Dalam arti kita tak akan mengalami penurunan kemampuan biologis karena umur. Apakah manusia akan bertahan di dunia? Overpopulation? Bagi saya tidak, kita akan punah.

Saya mendapati pertanyaan ini setelah menonton Frieren: Beyond Journey's End. Dalam cerita-cerita fantasi, elf selalu diceritakan berumur panjang, tetapi populasinya rendah. Jika asumsinya dibuat lebih dalam, yakni abadi, apakah populasinya akan hilang?

Keinginan untuk bereproduksi lahir dari tempaan evolusi dan kesadaran manusia akan pendeknya umur. Mengecualikan kematian karena umur dalam nasib manusia bisa saja membuat kita tidak memiliki insting itu. Akibatnya, peradaban itu akan memiliki angka kelahiran mendekati nol.

Di tengah peradaban yang populasinya mandek, keinginan manusia tetaplah tak terbatas. Kita akan menggali, menggali, dan menggali sumber daya apapun itu yang kita ketahui bahwa sumber daya sifatnya terbatas. Ini mirip dengan konsep pareto optimum. Jika sekumpulan manusia yang sama, terus-terusan tidak terpuaskan, tetapi alat pemuasnya terbatas. Muncul pilihan untuk merampas hak orang lain. Bentuk perampasan itu salah satunya adalah peperangan. Lalu hasil dari peperangan adalah kematian massal. Inilah salah satu sumber kematian di peradaban ini. Insting reproduksi yang rendah tidak bisa serta merta meningkat dalam jangka pendek, sehingga angka kematian akibat perang tidak dapat ditutup dengan angka kelahiran. Hal ini dapat terjadi dalam sekali peristiwa atau pengulangan dalam jangka panjang. Namun, hal itu dapat mungkin membawa peradaban pada kepunahan.

Ide ini masih memiliki banyak celah logika mulai dari asumsinya yang kurang jelas dan logika sebab akibatnya yang tersimplifikasi. Namun, ide ini bukan bertujuan menggebrak dunia sains atau filosofi, tetapi lebih kepada refleksi untuk menyadari kematian. Kematian membuat manusia memiliki insting untuk membuat dirinya abadi melalu keturunannya. Kematian membuat manusia memilih keinginan mana yang diprioritaskan untuk diwujudkan.