Ia tidak berakhir di sini. Apa kabar seseorang yang berdiri di atas jembatan rel kereta? Yang tangannya terentang, terbahak-bahak mendeklarasikan peperangan pada keabsurdan kehidupan. Apa langkah selanjutnya? Apakah sebuah kereta akan menyeretnya hingga pecah belah, atau justru kereta itu tersungkur jatuh ke Sungai Serayu yang romantis itu, menolak untuk memegang dosa pembunuhan. Namun yang pasti, ia tidak akan menyingkir dari tempat ia berdiri. Tangannya menggenggam berhelai-helai kelopak mawar. Apa yang dimaksud? Apakah ia ingin ledakan darah dan jatuhnya mawar memperindah kematiannya? Tidak ada yang tahu, hingga kereta berikutnya datang.
Rel bergetar, klakson berbunyi. Dukungan-dukungan masyarakat dunia menyeruak. Entah benar itu dukungan atau teriakan histeris. Tetapi tidak ada yang mau mencegahnya, tak berani, tak penting, atau tak melihat.
Detik-detik terasa lambat. Getaran rel perlahan-lahan semakin kencang. Klakson semakin mendenging. Lima puluh meter, empat puluh meter, dua puluh meter, sepuluh meter dari ujung Jembatan Serayu.
Napasnya tidak tersangkut sama sekali. Mengalir, sepanjang angin berembus. Ia tak menelan ludah, juga tak menahan ludah. Ia rela laiknya seorang perantau yang hendak memeluk ibunya. Tak ada beda dengan kereta, baginya itu seperti ibu kandungnya. Lantas detik ini, ia akan kembali pada pelukan rahim ibu.
Satu inci kereta itu di depan matanya. Apa yang terjadi padanya? Seriusan kamu bertanya padaku? Aku tidak tahu, sungguh tak tahu.